Review singkat Resto Agak Padang; Malam itu gue lagi muter di sekitar Blok M. Seperti biasa, kondisi penuh, rame, dan agak melelahkan. Bukan lagi suasana yang bikin pengen duduk santai. Akhirnya gue belok tanpa arah jelas, sekadar cari suasana beda. di sebuah tikungan, mata gue langsung ketarik ke sebuah plang: “Agak Padang”.
Namanya unik. Bukan rumah makan padang, bukan coffee shop modern, tapi juga bukan warung biasa. Akhirnya gue puter balik dan memutuskan mampir.
Table of Contents
ToggleParkiran & Kesan Awal

Parkiran motor tergolong pas-pasan. Mungkin muat sekitar 5–7 motor. Di ruko sebelah ada area yang kelihatan bisa dipakai, tapi waktu gue datang jam 7 malam, gak ada tukang parkir, jadi agak ragu itu legal spot atau bukan.
Masuk ke dalam Resto Agak Padang, suasananya langsung terasa cozy. Dinding dihias beberapa gitar elektrik dan akustik yang digantung rapi — bukan sekadar dekor, kelihatan memang bagian dari identitas tempatnya.
Belakangan gue baru tahu:
di satu lokasi ini ternyata ada 3 usaha sekaligus:
- Jual beli alat musik
- Studio band
- Cafe & restoran
Vibe-nya jadi campuran antara tempat nongkrong musisi dan tempat makan santai.

Orderan
Gue langsung ke kasir Resto Agak Padang di bagian dalam dan pesan:
- Nasi Goreng Rendang
- Kopmil (Kopi Milo)
- Air mineral

Sambil nunggu, gue denger percakapan dari owner pakai logat Minang yang kadang campur Bahasa Indonesia. Lumayan bikin yakin kalau ini bukan “Padang gimmick”.
Ekspektasi gue sebenarnya gak tinggi.
Apalagi kopmil — minuman ini sering gue minum dulu waktu di Padang daerah Pecinan / Pondok. Jadi gue cukup tau benchmark rasanya.
Minuman Datang Duluan
Pertama datang air mineral — Cleo botol besar warna hijau + gelas besar.
Kemudian datang kopmil.
Langsung gue cicipi.
Dan… Bamm.
Kaget.
Rasanya tidak seperti kopmil di Padang.
Ini jelas pakai biji arabica:
- fruity
- ada asam
- pahit kopi ketemu coklat pekat
Masalahnya… lambung gue masih kosong.
Jadi reaksinya agak “shock”.
Akhirnya cuma gue minum seteguk kecil dan gue tunda sampai makan datang.
Nasi Goreng Rendang
Kemudian datang menu utama.
Dan dari visual saja sudah menarik:
- pakai kerupuk merah (otentik banget)
- telur setengah matang
- bahkan dua telur
Langsung bikin lapar naik.
Suapan pertama:
Nasi pera tapi lembut.
Bumbu rendang terasa jelas.
Kerupuk merah bikin tekstur jadi hidup.
Kuning telur setengah matang jadi pelumas alami.
Semua nyatu.
Bukan nasi goreng padang generik.
Ini punya karakter.
Rating pribadi Resto Agak Padang : 8/10
Harga
Perkiraan harga:
- Nasi goreng rendang ± 50 ribuan
- Kopmil ± 30 ribuan
- Air mineral sekitar belasan-dua puluhan
Total sekitar 120 ribuan untuk 3 item.
Bukan murah, tapi masih masuk kategori wajar untuk area Blok M + konsep cafe.
Pelayanan
Setelah makan, gue mau lanjut minum kopmil sambil ngevape di luar.
Gue bilang:
“Mas, kopmilnya saya bawa keluar ya”
Dia jawab:
“Oh iya boleh, mau saya bawakan?”
Dari awal sampai akhir:
- cook ramah
- bartender ramah
- interaksi natural, bukan service template
Pelayanan: 9/10
Ngobrol Dengan Bartender
Di luar gue ngobrol lumayan lama sama bartender.
Ternyata:
Owner asli Minang
Punya channel YouTube touring
Ngobrolnya santai banget sampai ke berbagai cerita (yang gak perlu ditulis semua).
Gue juga sempat kasih feedback:
kopmil kurang cocok pakai arabica karena hilang rasa khas Padangnya.
Mudah-mudahan didengar.
Kesimpulan
Makanannya enak dan cukup ngangenin. Bahkan pas nulis review ini, ada rasa pengen ngajak teman ke sana.
Tempat ini cocok buat:
- nongkrong malam
- habis kerja
- musisi
- yang cari suasana beda dari coffee shop generik
Bukan restoran Padang klasik.
Bukan coffee shop modern.
Tapi kombinasi keduanya — dengan identitas sendiri.
Worth it? Ya.
Balik lagi ke Resto Agak Padang? Kemungkinan besar iya.
Tempat seperti ini biasanya bukan dicari karena viral, tapi karena nyaman.
Secara konsep sebenarnya tempat ini sudah punya fondasi yang kuat: identitas Minang terasa, makanannya jelas punya karakter, dan ambience-nya beda dari cafe Blok M kebanyakan. Kombinasi restoran, studio band, dan toko alat musik juga memberi value unik yang jarang ada. Masalahnya bukan di produk, tapi di eksposur. Tempat ini terasa masih “tersembunyi”, padahal potensinya cukup besar.
Kalau owner mulai sedikit bermain gimmick di sosial media — misalnya storytelling soal budaya Minang, konten musisi yang nongkrong, atau eksplorasi kopmil khas — kemungkinan besar bisa naik cepat. Karena bagaimanapun juga, ini Blok M: tempat di mana sesuatu bisa ramai bukan hanya karena rasa, tapi karena cerita dan pengalaman.
Dengan kualitas makanan yang sudah enak, pelayanan ramah, dan konsep yang matang, tinggal dorongan publikasi saja supaya tempat ini tidak cuma jadi hidden gem, tapi benar-benar jadi destinasi nongkrong.






