Bisnis es krim dan minuman dingin masih menjadi salah satu sektor franchise yang paling agresif pertumbuhannya di Indonesia. Dua nama yang hampir selalu muncul dalam perbandingan adalah Mixue dan Momoyo. Keduanya sama-sama viral, sama-sama menyasar pasar anak muda, dan sama-sama terlihat “gampang laku”. Namun pertanyaan paling krusialnya bukan soal ramai atau tidak, melainkan: Mixue vs Momoyo, mana yang lebih menguntungkan secara bisnis?
Artikel ini membahas perbandingan Mixue vs Momoyo secara objektif dan komersial, mulai dari modal awal, potensi omzet, margin keuntungan, risiko operasional, hingga kecocokan untuk pemula. Tujuannya bukan membela salah satu brand, tapi membantu calon mitra mengambil keputusan berdasarkan hitungan, bukan hype.

Table of Contents
ToggleGambaran Singkat Franchise Mixue dan Momoyo
Mixue
Mixue dikenal sebagai brand es krim dan minuman asal Tiongkok yang sukses menembus pasar Indonesia dengan strategi harga super terjangkau. Produk andalannya adalah es krim cone murah dan minuman teh buah. Model bisnis Mixue sangat mengandalkan volume penjualan tinggi.
Momoyo
Momoyo adalah brand lokal yang mengusung konsep soft ice cream & dessert dengan pendekatan visual yang lebih “premium playful”. Menu Momoyo cenderung lebih variatif dari sisi topping dan tampilan, menyasar konsumen anak muda yang suka eksplor rasa.
Keduanya sama-sama bermain di segmen es krim, tapi karakter bisnisnya berbeda.
1. Perbandingan Modal Awal Franchise Mixue vs Momoyo
Modal Franchise Mixue
Secara umum, Mixue dikenal sebagai franchise dengan modal yang relatif terjangkau untuk ukuran brand besar. Estimasi modal awal (bisa berbeda tergantung lokasi):
Kisaran: Rp300–400 juta
Sudah termasuk:
Booth atau toko
Peralatan utama
Bahan baku awal
Sistem operasional
Modal Franchise Momoyo
Momoyo berada di kelas modal yang sedikit lebih fleksibel:
Kisaran: Rp250–350 juta
Konsep booth lebih ringkas
Penyesuaian lokasi lebih variatif
👉 Kesimpulan awal:
Momoyo sedikit lebih ramah dari sisi fleksibilitas modal, sementara Mixue unggul di kekuatan brand global.
2. Segmentasi Pasar: Volume vs Variasi
Mixue: Main Volume
Harga sangat murah
Cocok untuk:
Pelajar
Pembeli impulsif
Area ramai dengan traffic tinggi
Target utama: jualan banyak, margin tipis
Momoyo: Main Experience
Harga sedikit lebih tinggi
Cocok untuk:
Anak muda
Nongkrong ringan
Konsumen yang peduli tampilan & rasa
Target utama: margin lebih sehat per produk
Perbedaan strategi ini sangat berpengaruh pada struktur keuntungan.
3. Estimasi Omzet Harian Mixue vs Momoyo
Simulasi Omzet Mixue (Lokasi Ramai)
Harga rata-rata produk: Rp12.000
Penjualan: 400 cup/hari
Omzet harian:
400 × Rp12.000 = Rp4.800.000
Omzet bulanan:
± Rp144.000.000
Simulasi Omzet Momoyo (Lokasi Ramai)
Harga rata-rata produk: Rp18.000
Penjualan: 250 cup/hari
Omzet harian:
250 × Rp18.000 = Rp4.500.000
Omzet bulanan:
± Rp135.000.000
👉 Dari sisi omzet kotor, keduanya relatif seimbang.
4. Margin Keuntungan: Siapa Lebih “Napas Panjang”?
Margin Mixue
Margin kotor: ± 45–50%
Harga jual ditekan
Sensitif terhadap kenaikan biaya bahan
Margin Momoyo
Margin kotor: ± 55–60%
Harga lebih fleksibel
Lebih aman dari fluktuasi kecil biaya
👉 Momoyo unggul di margin, Mixue unggul di volume.
5. Biaya Operasional Bulanan
Mixue
Karyawan: 3–4 orang
Jam operasional panjang
Biaya operasional:
± Rp25–30 juta/bulan
Momoyo
Karyawan: 2–3 orang
Operasional lebih ringkas
Biaya operasional:
± Rp20–25 juta/bulan
6. Estimasi Laba Bersih Mixue vs Momoyo
Laba Bersih Mixue (Simulasi)
Omzet: Rp144 juta
Laba kotor (50%): Rp72 juta
Operasional: Rp28 juta
👉 Laba bersih ± Rp44 juta/bulan
Laba Bersih Momoyo (Simulasi)
Omzet: Rp135 juta
Laba kotor (58%): Rp78 juta
Operasional: Rp23 juta
👉 Laba bersih ± Rp55 juta/bulan
👉 Dalam simulasi ini, Momoyo unggul dari sisi laba bersih.
Klik di sini untuk konsultasi dengan konsultan bisnis kami
7. Risiko Bisnis yang Perlu Dipahami
Risiko Franchise Mixue
Ketergantungan traffic tinggi
Persaingan antar outlet Mixue cukup ketat
Margin tipis = harus konsisten rame
Risiko Franchise Momoyo
Brand belum sebesar Mixue
Butuh edukasi lokasi tertentu
Penjualan lebih sensitif tren
Tidak ada bisnis tanpa risiko. Yang penting adalah kecocokan dengan gaya pengelolaan pemilik.
8. Cocok untuk Pemula? Ini Jawaban Jujurnya
Mixue Cocok untuk:
Investor dengan lokasi super strategis
Siap main volume
Siap bersaing ketat
Momoyo Cocok untuk:
Pemula bisnis franchise
Ingin margin lebih aman
Lokasi ramai tapi tidak ekstrem
Untuk referensi franchise es krim lain, kamu bisa melihat daftar franchise Mixue dan franchise Momoyo di:
9. Mixue vs Momoyo: Mana Lebih Menguntungkan?
Jawabannya tidak mutlak, tapi berdasarkan analisis:
Mixue unggul di brand & volume
Momoyo unggul di margin & fleksibilitas
Pemula cenderung lebih “aman” di Momoyo
Investor berpengalaman bisa memaksimalkan Mixue
Jika tujuan kamu adalah keuntungan bersih stabil dengan risiko terkontrol, Momoyo sering kali lebih realistis. Namun jika kamu memiliki lokasi emas dan siap main cepat, Mixue tetap sangat menarik.
Menurut laporan industri makanan dan minuman, bisnis dessert dan minuman dingin masih tumbuh positif di Asia Tenggara, terutama pada segmen harga terjangkau dan middle market.
Sumber: https://www.statista.com
REKOMENDASI FRANCHISE > DISINI
Alternatif Franchise dengan Modal Lebih Terjangkau: Honey Bunny

Bagi calon pengusaha yang tertarik masuk ke bisnis dessert dan minuman, kendala terbesar Mixue maupun Momoyo sering kali ada di modal awal. Dengan kebutuhan investasi ratusan juta rupiah, tidak semua orang berada di posisi siap langsung masuk ke skala tersebut. Di sinilah Honey Bunny hadir sebagai alternatif yang lebih rasional.
Dengan kisaran modal mulai 100 jutaan, Honey Bunny menyasar segmen pasar yang sama—anak muda, keluarga, dan konsumen pencinta dessert—namun dengan skema investasi yang lebih ringan dan fleksibel. Konsep usaha dirancang agar bisa beroperasi di berbagai tipe lokasi, mulai dari ruko kecil, booth, hingga area komersial skala menengah.
Dari sisi bisnis, model Honey Bunny lebih cocok untuk:
Pemula yang ingin belajar mengelola franchise dari nol
Pengusaha yang ingin balik modal lebih cepat tanpa tekanan biaya besar
Investor yang ingin membuka lebih dari satu outlet secara bertahap
Dengan biaya operasional yang lebih terkendali, risiko finansial pun relatif lebih rendah dibanding franchise dengan investasi ratusan juta. Hal ini membuat Honey Bunny menarik sebagai opsi masuk industri dessert tanpa harus “all in” sejak awal.




